Sehari Bersama Alam di Negeriku yang Tanpa Batas

Cerita Pendek Karya : Risa Amalia Kurniawati

(Pendidikan Geografi 2018)

NIM : 180721639014

 

Pagi itu tidak seperti biasanya, pagi yang selalu sibuk dengan rutinitas kuliah yang sangat membosankan. Pagi itu aku awali memulai perjalanan untuk menikmati keindahan alam bersama kesendirian, berdialog dengan sunyinya malam yang, bertabur bintang, mendengarkan suara air hujan yang jatuh membasahi setiap jejak langkah kehidupan. Rasanya indah dalam bayangku. Setelah shalat subuh dan sarapan pagi, aku meriksa kembali barang bawaan yang telah disiapkan di malam hari sebelumnya. setelah itu, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku melalui whatsapp, untuk pergi ke sebuah kota di sebelah barat kota Malang yakni Kota Blitar. Untuk sampai ke kota Blitar, aku menggunakan alat transportasi umum kelas ekonomi yaitu kereta. Sesampainya di stasiun Malang Kota Baru yang, sebelumnya diantarkan oleh bapak grab dari kosku. Sampai stasiun, segeralah aku menaiki kereta tujuanku. Perjalanan banyak hal yang biasa saja, sehingga aku banyak tidur di perjalanan. Sampai pukul 11.00 WIB aku sampai di Kota Blitar, memang perjalanan itu sangat melelahkan karena memakan waktu 3 jam di kereta. Sehingga kepala ini agak pusing dan terasa mual.

“Mbak mau kemana?” ucap tukang ojek separuh baya itu, ini pak saya mau ke Perkebunan Teh Sirah Kencong apakah bapak tahu? Kalau tahu tolong antarkan saya” Dengan tarif yang agak murah tukang ojek tersebut mengamini keinginanku untuk sampai di perkebunan Teh Sirah Kencong tersebut.

Perjalanan tidak membosankan, bapak yang sering disebut “Kang Maman”, menceritakan akan keindahan alam yang ada di Kota Blitar, pak maman menceritakan tentang, air terjun “grenjang” , gunung bernama “Kelud dan butak”, yang penuh akan keindahan dan legenda tersebut. Serta masyarakat yang menjunjung tinggi nilai dan adat-istiadatnya.

45 menit pun berlalu, sampailah saya di perkebunan teh Sirah Kencong yang menurutku surga tersembunyi di Blitar. Udara dingin menyambut kedatanganku, sampai-sampai kemeja flanel tebal pun tidak bisa menanhanya. “Terimakasih pak, telah mengantarkan saya ke sini”. Sambil menyodorkan uang tarif yang pak maman sebutkan tadi, “sami-sami mbak, kalau mau melihat panaroma yang indah, mbak har8s berjalan melewati jalan itu”, sambil telunjuknya mengarahkan kepada jalan setapak yang tepat berada selokan kecil yang airnya teramat jernih, “iya pak, terimakasih”.

Segeralah kaki ini menyususri setapak demi setapak jalan yang di tunjukan pak maman tadi. Sungguh indah perjalanan ini karena, disuguhi pemandangan alam yang menyejukan mata. Terlihat menjulang tinggi, gunung kelud dan butak, sungai mengalir seakan berbisik “inilah ciptaan keindahan tuhan yang harus kau syukuri”. Trek jalan terjal yang disisi pinggirnya adalah jurang, tepat di  dasar jurangnya adalah sungai, jadi akau harus hati-hati melangkahkan kaki yang sudah mulai lelah ini. Aku ikuti terus petunjuk arah jalan yang di tempelkan pada pohon damar berusia ratusan tahun itu.

Tiba-tiba kaki ini dihentikan langkahnya setelah melihat hamparan luas rumput hijau dan pohon pinus yang berderet memanjang, nampaknya tempat itu cocok membangun kemah untuk tempat tinggal sementara.

Tenda yang di bawa di tas carrier, tidak lama pun saya dirikan. Perut pun terasa lapar, sehinga bekal yang dibawa tadi habis di makan dengan beberapa suap saja. Tiba-tiba datang seorang pemuda berpakaian khas sunda, dia bertanya akan izin untuk mendirikan tenda di tempat ini?”. Dengan senyum ramahnya pemuda misterius itu bertanya. “maaf mbak, saya beum tahu akan harus izin berkemah di tempat ini”. Pemuda itu menjelaskan bahwa, tempat tersebut adalah tempat berkemah yang biasa dijadikan camp untuk menjelajah desa. Tapi tuturnya tahun ini selalu sepi, dikarenakan wisatawan lebih suka menyewa villa yang dibangun baru ini, di dekat jalan raya penghubung desa dan jalan raya.

Resleting tenda pun aku kunci dengan gembok karena aku akan menjelajah menuju curug yang menjadi salah satu spot indah. Dengan menyusuri trek jalan tanah berbatu, memang perlu tenaga extra, karena trek yang tidak mudah di lalui. Akan tetapi perjalanan itu dibayar dengan keindahaan alam yang tersuguh.

Di perjalanan kembali ke tenda, aku hanya ditemani langit jingga, dan suara burung yang ingin kembali ke sarangnya. Terasa puitis sekali ketika keadaan itu , diimbangi dengan lantunan lagu “ibu pertiwi” dan suaraku yang agak fals itu. Terlihat dari kejauhan ternayata di sebelah tendaku sudah ada yang mendirikan tenda baru. Ternyata tenda itu milik seorang mahasiswa seumuranku, yang bernama Roni, “sendirian aja mbak?”, tutur cowok manis berjaket biruitu. “iya nih, karena kawan yang lainya sibuk kerja sama kuliah”, jawabku singkat.

Waktu sholat maghrib pun datang, kami pun bersiap-siap untuk menunaikan sholat maghrib. Kami menunaikan sholat maghrib berjamaah di alam terbuka ditemani dengan, matahari yang mulai menghilang yang menyisakan keheningan dan suara jangkrik yang merdu, hal itu menambah khusunya sholat kami. Setelah itu kami putuskan untuk memasak bersama, setelah logistik makanan masing-masing dikumpulkan aku dan roni mulai memasak, di atas api kompor portable. Setelah masakan matang akhirnya kita makan malam dengan lahap dan sangat kenyang.